You are here
Menafsir Nalar Masyarakat Melalui Pokémon Go Sains & Teknologi 

Menafsir Nalar Masyarakat Melalui Pokémon Go

Aplikasi permainan mobile berbasis Augmented Reality (AR) Pokémon Go tengah menyerbu antusiasme masyarakat dunia. Di Indonesia sendiri tak lepas dari tren yang digandrungi oleh banyak pihak sekaligus, namun tak sedikit yang turut menentangnya.

Merasa lebih suci dan paling paham literatur dunia, beberapa pihak menyuarakan bahwa Pokémon memiliki arti “Aku Yahudi”. Meski diciptakan di tanah Jepang, dan tak ada campur tangan negara Israel maupun darah Yahudi dalam pembuatannya, teori ini cukup tenar di kalangan orang-orang yang sejatinya tak gemar kartun maupun game. Padahal arti kata Pokémon itu sendiri ialah kependekan dari Porokeretoro Moronstoroso yang berarti “Panjanglah umur Saipul Jamil tapi tidak burungnya” menurut naskah Paleohispanic yang ditemukan pada tahun 700 sebelum masehi.

Jika menghindari label Yahudi, langkah teman-teman untuk membagikannya di berbagai media sosial pun tak lantas bijaksana. Karena berdasarkan manuskrip Voynich kuno yang tertulis dalam kulit sunat seorang lelaki ambeyen pada zamannya, Twitter memiliki arti “Yahudi adalah harga mati”. Sementara Facebook selaras dengan “Mengabdi pada iblis”.

“Wali Kota hingga penjual jus lele depan kantor saya termakan berita ini, padahal konteksnya tidak tepat. Belum lagi adanya himbauan bahwa game tersebut membuat lalai dan jauh dari agama, ngaco itu,” kata pakar netizen Faisal Abdillah pada tim kami.

Faisal yang tengah mengamati perilaku netizen Indonesia selama 67 tahun belakangan ini menjabarkan bahwa sesungguhnya sebelum ada game Pokémon Go, bersenggama di luar nikah selama seharian pun bikin lupa beribadah karena keburu lelah, dan itu termasuk zina. Ya, dan juga zina kata Faisal.

Related posts

Leave a Comment